Google Glass Menjadi Alat Medis Untuk Calon Dokter Bedah

Gapteker.com - Jika sebelumnya Google Glass digunakan untuk kalangan bisnis, artis, dan lain-lain, kini google glass juga digunakan oleh calon dokter bedah sebagai alat medisnya di Stanford University Medical School.

google glass

Stanford University Medical School menjadikan Google Glass sebagai salah satu peralatan medis untuk para calon ahli bedah toraks yang akan mengoperasi pasien mereka.

Google telah bekerjasama dengan firma live-streaming CrowdOptic untuk mentransmisikan jalannya operasi secara real-time yang dilakukan oleh calon dokter bedah dan akan ikut disaksikan langsung oleh instrukturnya.

Dengan headset yang tersambung ke internet, instruktur dapat langsung memberikan saran dan instruksi kepada para calon dokter bedah.

Jon Fisher selaku CEO dan co-founder CrowdOptic mengatakan bahwa reaksi para dokter terhadap teknologi Google Glass sangatlah positif.

‘Perkawinan’ teknologi Google Glass dengan ilmu kedokteran bedah dinilai akan dapat mengubah metode pengajaran untuk spesialis bedah.

Dilansir dari CNET, CrowdOptic merupakan salah satu dari 5 mitra dalam program Glass at Work yang diumumkan oleh Google bulan Juni lalu.

Program ini dibuat untuk meningkatkan kegiatan bisnis yang menggunakan Google Glass.

Mitra lain yang tergabung dalam program tersebut adalah APX Labs, GuidiGo, AugMedix dan Wearable Intelligence.

Baru-baru ini, APX memperkerjakan pendiri program Glass at Work dari Google X untuk menjalankan pengembangan bisnis untuk perusahaan mereka.

CrowdOptic juga sedang mengembangkan teknologi untuk menjalankan beberapa live-streaming sekaligus dan terus mencari berbagai kasus yang dapat diujicoba dengan Google Glass.

Meski Stanford adalah universitas yang pertama kali menggunakan Google Glass untuk mahasiswanya, Google Glass sendiri sudah beberapa kali dipakai dalam kamar operasi.

Lebih dari setahun yang lalu, seorang dokter dari Ohio State University menampilkan operasi lutut secara live-streaming.

Fisher mengaku ia paham dengan berbagai isu terkait pemakaian Google Glass di ruang operasi, seperti masalah privasi dan Health Insurance Portability and Accountability Act (HIPAA).

Ia mengatakan bahwa CrowdOptic telah menemukan cara untuk mengunci data yang digunakan untuk live-streaming sehingga data pasien tidak akan tersebar luas.

CrowdOptic sendiri juga memiliki spektrum khusus yang tidak bergantung pada koneksi Wi-Fi sehingga keamanan data akan lebih terjamin.

Data live stream sepenuhnya menjadi milik Stanford dan CrowdOptic tidak memiliki akses terhadap data trsebut.

Fisher juga mengatakan bahwa pasien sudah memberikan izin mengenai penggunaan teknologi Google Glass sebagai bagian dari operasi.

Namun, Fisher tidak memberi komentar ketika ditanya mengenai jenis enkripsi yang digunakan untuk melindungi data saat live streamberlangsung.

Teknologi CrowdOptic juga akan menonaktifkan aplikasi lain ketika Google Glass sedang dipakai untuk operasi sehingga proses belajar mengajar sama sekali tidak terganggu.

Meski kerap menjadi kontroversi, Google tetap optimis bahwa Google Glass akan dapat diterima seluruh kalangan dan memberikan kontribusi penting untuk masyarakat.

via sidomi

About The Author

Gapteker Senior Writer

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *